Di Balik Hujan
Namaku Riana Alfinta, biasa dipanggil alfi. Aku berusia 17 tahun. Orang
biasa mengenalku sebagai cewek tomboi tapi ceriwis, hobbyku olahraga seperti
basket, renang, dan bersepeda. Aku juga mempunyai sahabat namanya Aoi. Dari kecil
kami selalu bersama, dimana ada Aoi disitulah ada aku begitupun sebaliknya.
Kami melakukan semua aktivitas bersama mulai dari berangkat sekolah, belajar,
bermain sampai menjalankan hobby yang sama. Kami tak pernah pisah kecuali pada
saat tidur sampai - sampai kami di dijuluki anak kembar siam kemana - mana
selalu bareng. Tetapi tidak untuk saat ini, sekarang Aoi sudah pergi dan takkan
pernah kembali lagi.
Hari ini adalah hari ke 7 aku tanpa Aoi. Hatiku begitu sepi dan hampa.
Tidak ada derai tawa yang selalu menemani hariku. Duniaku seakan tak bergairah
lagi. Semua aktivitasku hancur terbengkalai. Hujan turun begitu derasnya seakan
- akan hujan mengerti apa yang aku rasakan. Tanpa aku sadari kenangan bersamamu
berputar begitu saja di pikiranku, aku sangat rindu kepadamu sahabatku. Tanpa
terasa air mataku mengalir membasahi pipi.
"Apa yang sedang kau lakukan ?"
Aku tersentak kaget ternyata kakak sudah berada didalam kamarku. buru -
buruku hapus air mataku.
"Sejak kapan kakak disitu ?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku malah berbalik menanya. Gak sopan"
"Kakak sendiri masuk ke kamar orang tanpa ketok pintu dulu"
"Sudahlah aku tidak ingin berdebat"
"Lalu apa ?"
"Aku mengkhawatirkanmu"
"maksudnya ?"
"Aku tau kamu pasti merasa kehilangan yang teramat dalamkan ?"
"......"
"Dia memang sahabat pertamamu tapi kamu tidak boleh terlarut lebih lama
dalam kesedihan aku yakin, Aoi juga tidak mau kau bersedih karena dia tidak ada
disisimu sekarang dia kan senang bila kamu tersenyum percayalah dia akan baik -
baik aja di surga sana." Kakak menepuk kepalaku dengan lembut.
"Tapi kak dia gak ngasih tau aku kalau dia sakit. Sakitnya kanker kak dan
itu bukan penyakit yang gampang diterima seseorang gitu aja" suaraku mulai
meninggi
"Mungkin dia punya alasan tertentu fi dan gak bisa ngasih tau ke
kamu"
"Alasan tertentu dan gak ngasih tau aku ? Iya ? "
"Alfi...."
"Selama ini aku dianggap apa kak? Kita udah sahabatan lebih dari 10 tahun
dan itu bukan waktu yang sebentar. Apa dia masih gak bisa percaya sama aku.
salah aku apa kak ? " aku tidak bisa menahan air mataku lagi
"Kamu gak salah kok" kakak memelukku erat
"Terus kenapa Aoi ngelakuin ini ke aku kak? Kenapa? kalau aku tau dia
sakit kayak gini aku gak akan ajak dia main basket sampe sore, aku gak akan
ajak dia jalan - jalan keliling Jakarta cuma karna aku lagi bete di rumah aku
gak akan bikin dia kecapean"
"Ssstt..."
"Seharusnya Aku nemenin dia kemo dan nyemangatin dia sampai dia sembuh.
Tapi aku malah melakukan hal - hal yang gak penting disaat - saat terakhirnya
kak"
"Sudah Alfi sudah kamu gak boleh ngomong kayak gitu dan kamu juga gak
boleh nyalahin diri kamu sendiri. Ini udah jadi keputusan Aoi dan mungkin ini
adalah yang terbaik buat Aoi, kamu dan kita semua orang yang ada di dekat
Aoi"
Aku menangis tersedu - sedu didada kakak dan kakak tetap memelukku sampai
tangisku mereda. Dalam beberapa menit kemudian hanya suara tangisku yang
terdengar. Aku tidak bisa berkata apa - apa lagi. Setelah aku terlihat lebih
tenang kakak melepaskan pelukkannya perlahan dan menghapus air mata yang
tersisa di pelupuk mataku.
"Ingat pesan kakak kesedihan yang berlarut - larut tidak akan baik.
masalah gak akan hilang sendiri harus dihadapi, seenggan apa pun kamu. Jadi aku
gak mau adik yang paling aku sayang ini terlihat bersedih terus sepanjang
hari." Kakak berbalik menuju pintu
Aku hanya bisa mengangguk lemah.
"Kakak" panggilku dengan suara parau
"Terima kasih"
"Untuk apa ?"
"Untuk semua nasihat yang sudah kakak berikan kepadaku"
Kakak tersenyum ringan. Aku berlari dan memeluk kakak dengan erat.
"Kau memang kakakku yang paling hebat dalam menenangkan hati
seseorang"
"Hahaha bisa aja kamu ini"
"hehe"
"Sudah sana tidur hari sudah semakin larut dan jangan lupa baca do'a
sebelum tidur"
"Siap bos!"
Setelah kakak menutup pintu aku baru sadar dari semua perkataan kakak mungkin
ini yang terbaik untuk kita semua. Jadi aku akan mencoba melakukan
aktivitasku kembali dengan normal. Terima kasih Aoi kamu udah jadi sahabat
terbaikku aku tidak akan melupakannmu sepanjang umurku. Tak lama rasa kantukku
datang aku pun tertidur pulas dengan rasa tenang dan nyaman.
♡ TAMAT ♡
Tidak ada komentar:
Posting Komentar