Selasa, 01 November 2016

Karya Dinda K.P


Kekuatan yang tak terduga

Malam yang gelap ditemani angin yang kencang menyentuh kulit Camy, menyadarkan lamunannya, ia sedang mencerna pesan apa yang ia dapatkan dalam mimpinya. Ia  bingung mengapa ia mendapatkan mimpi yang  aneh itu.

Sehingga ia melakukan aktivitas yang lain, untuk mengalihkan pemikirannya. Tapi Camy tidak bisa fokus untuk mengerjakan tugasnya. Kata – kata orang itu teriang – iang di pikiran Camy.

“Hufft..., aku tidak bisa fokus pada tugasku. Hmmm... lebih baik aku tidur.” Camy penuh kecemasan dan segera menghembuskan nafas.

“ Hei.... kamu siapa? Jauhkan dirimu dariku. Aku tidak ingin dekat dekat denganmu” Camy dengan penuh amarah.

“ Hahahaha... kamu tidak perlu tau siapa aku... karena suatu saat kita akan bertemu di dunia nyata. Aku menginginkanmu dan semua sahabatmu” Erebus penuh kepuasan.

“ Apa? Aku tidak akan menyerahkan diriku dan sahabat- sahabatku” Camy penuh keyakinan.

“ Pecahkan semua teka – teki dan temuilah aku setelah itu.” penuh kemenagan dan angkuh.

Camy pun terbangun dari mimpi buruknya dengan tubuh berlumuran keringat dingin.

“ Mimpi itu datang lagi” cemas Camy.

“Apa yang harus aku lakukan?  Aku tidak bisa diam begini saja. Aku harus kemana? Harus bilang siapa? Anton, Gaby, Jessica atau mereka semua? Tapi...bagaimana cara aku bilang kepada mereka? Tidak,  aku tidak bisa ceritakan pada mereka, mereka tidak akan percaya, mereka hanya menganggap aku bercanda.” Camy dilanda kebingungan dan seribu pertannyaan yang harus ia jawab sendiri. Camy pun kembali tertidur.

Fajar pun mulai menyingsing, Anton, Gaby, Jessica pun sedang mempersiapkan barang bawaan untuk ke sekolah tak terkecuali Camy. Ia bangun pada pagi ini kesiangan, sehingga ia harus mempersiapkan barang barangnya dengan cepat dan mandi pun secepat yang ia bisa. Camy tidak biasa berangkat sekolah sesiang itu. Di antar mereka berempat Camylah yang paling rajin untuk berangkat pagi ke sekolah, tapi tidak untuk hari ini.

“Anton, dimana Camy? Mengapa ia belum sampai juga di sekolah?” tanya Jessica.

“Aku juga tidak tau dimana ia sekarang, tapi tumben ya dia kesiangan” jawab Anton.

“Tapi... mengapa Camy sampai kesiangan seperti ini? “ tanya Gaby.

“Hmmm... entahlah” jawab Anton singkat.

Tiba – tiba orang yang mereka sedang bicarakan, melangkahkan kaki ke kelas.

“Tuh... Camy datang” kata Gaby. “Selamat pagi bu... Maaf saya telat bu” jelas Camy. “Ya, selamat pagi. Baiklah duduk kamu” tegas Ibu guru.

Jessica pun ingin menannyakan pada Camy mengapa ia telat datang ke sekolah. Tapi ia bingung harus bertanya bagaimana.

“ Sudahlah nanti saat istirahat saja aku tanyakan padanya” kata Jessica dalam hati.

Empat jam pelajaranpun sudah selesai, waktunya untuk semua siswa dan para guru istirahat. Seperti biasa mereka berempat membawa bekal lalu memakannya di rooftop. Mereka sangat nenyukai momen momen itu, karena mereka dapat menghabiskan waktu bersama dan saling bertukar cerita untuk meminta solusi. Tapi Gaby melihat Camy sangat lemas seperti kurang tidur.

“Gaby, Jessica, Camy ayo ke rooftop” ajak Anton.   

 “ Ayoooo....” Jessica penuh semangat.

“Ayo.. Camy kenapa kamu masih duduk saja? Ayolah” ajak Gaby.

“Maaf teman, aku sedang tidak enak badan, aku ingin tidur dikelas saja” Camy menghindar.

“Yaahh.. aku antar kamu dulu ke uks ya” peduli Anton.

“Tidak usah. Aku di kelas saja” jawab Camy. “Baiklah kalau begitu” sambung Jessica.

Jessica memikirkan sikap Camy hari ini ada yang berbeda dari Camy, ia tidak seperti  biasa. Camy yang ia kenal penuh kecerian dan pada hari ini Camy tidak ceria dan ia datang ke sekolah telat. Pasti Camy sedang mengalami sesuatu. Jessica bingung apakah ia harus bercerita pada kedua sahabtnya ini tentang kecurigaannya mmengenai sikap Camy. Tapi jessica simpan kecurigaannya pada dirinya sendiri dulu, mungkin Camy sedang badmood. Istirahat ini begitu berbeda dari biasanya karena Camy tidak ikut bersama mereka.

Aktivitas sekolah hari ini sungguh membosankan , karena Camy tidak begitu fokus pada pelajaran. Ia selalu memikirkan tentang mimpinya itu.

Ini adalah malam sabtu, rutinitas untuk malam ini adalah menginap di salah satu rumah keempat sahabat tersebut, untuk jadwal malam ini berada di rumah Camy. Camy merrasa lebih lega dan tenang, mungkin saja jika sahabatnya menginap di rumahnya akan mengurangi ketegangannya di setiap malam hari.

Malam ini Jessica akan menanyakannya tentang kecurigaannya pada Camy, ini adalaha waktu yang tepat.

“Camy...” panggil Jessica.

“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu” tanya Jessica.

“Apa?” jawab Camy.

“Kamu sedang ada masalah ya” kata Jessica.

“Ti...ti..tidak” jawab Camy.

“Kau bohong, aku sudah mengenal setiap sifat sahabat – sahabatku ini. Kita itu sahabat kamu, kamu punya masalah harus cerita ke kita. Kita akan bantu kamu untuk menghadapinya. Kita sahabat yang harus memperkokoh kepercayaan satu sama lain karena sebuah hubungan dimulai dari kepercayaan.” Jelas Jessica.

“Iya benar tuh yang dikatakan Jessica. Kita semua harus saling mempercayai satu sama lain, itu adalah kekuatan kita” tambah Gaby.

“Kamu gak usah khuatir apa yang sedang kamu hadapi itu, kita disini harus saling membantu sama lain. Kita semua pasti  ngebantu kamu” tambah Anton.

“Uuumm.. baiklah aku akan ceritakan pada kalian” jawab Camy.

“Ta...pi...” tambah Camy.

“lanjut ceritanya tidak pakai tapi – tapi” kata Anton

“Hhhuuhh”  Camy menghembuskan nafas.

“Aku dapat mimpi buruk dari dua hari yang lalu selama berturut-turut. Di mimpi itu ada sesorang lelaki yang menyeramkan, ia menginginkan aku dan kalian semua.” Jelas Camy.

“Hiks... hiks... hiks, aku takut kalau aku cerita ke kalian” tangis Camy.

“Tidak usah kamu pikirkan, sudah kalian semua tidur sudah larut malam ini” tegas Anton.

“Baiklah aku ke kamar ya, selamat malam semua” tambah Anton.

“Selamat malam” serentak Camy, Jessica dan Gaby.

Malam ini begitu dingin ada persaan yang tidak enak menyelimuti diri Camy. Camy dilanda kecemasan lagi, ia takut kehilangan sahabatnya yang ia sayangi.

Camy mecoba menghilangkan kegelisahannya dengan tidur. Ia batu saja tidur 3 jam, tiba -tiba Erebus datang lagi ke mimpi Camy.

"Kau ingkar janji padaku... aku peringatkan sekali lagi jangan pernah mencoba menyelesaikan masalah ini dengan sahabat- sahabat mu. Jika kau berni melanggar lagi, aku akan memusnahkan sahabatmu"jelas Erebus.

"Tidak, akan aku biarkan ku mencelakakan sahabatku" Camy kesal.

Camy terbangun dalam kesunyia dan kegelapan. Ia harus bisa menemukan teka- teki itu dan memecahkanny, tapiCamy ingung harua mulai dari mana.

Keesokannya, keempat sahabat itu berpteluang ke belakang gudang sekolah. Camy berfikir apakah ada suatu petunjuk yang akan aku temukan di sini, fikir Camy dalam hati. Tiba - tiba Camy menemukan sesuatu yang aneh berada di pojok gudang sekolah, tapi ia diam-diam pergi ke sana sendirian tidak izin pada sahabatny. Ternyata Camy menemukan sebuah kotak yang berisi peta, ia tidak tau peta itu berisi tentang apa. Camy mengambil kertas iu dan dilipat sampai bisa ia masukkan ke kantong jaket. Lalu, setelah itu Camy kembali kepada sahabatnya.

"Darimana saja kamu Camy? Kami mencarimu Jessica perhatian.

"A.. aku dari kamar mandi, gak tahan buang air kecil hehehe" sesantai yang Camy bisa.

          Selama perjalanan pulang Camy memikirkan peta apa yang ia dapatkan itu. Apakah ia harus  memecahkan apa tujuan peta itu sendiri atau harus bersama sahabat. Jika ia pergi bersama, apakah sahabtnya akan celaka, tapi mereka pergi bersama apa mungkin sahabatnya akan terluka walaupun mereka bersama.

Camy memutuskan untuk memberitahu kepada sahabatnya, dan meminta pendapat apa yang harus dilakukannya.

"Jes, aku ingin bicara pada kalian semua, aku ke rumahmu ya.."bicara Camy pada Jessica melalui telepon.

"Oh ya... kamu juga bilang pada Gaby dan Anton untuk ke rumah kamu" tambah Camy.

"Iya baiklah. Tapi.. ada ap..?" Tanya Jessica telpon terputus.

Tidak lama kemudian sekitar 25 menit, Camy sudah sampai di rumah Jessica. Jessica pun tau jika Camy sudah sampai di depan gerbang dan ia langsung membukakan gerbang untuk Camy. Tidak lama kemudian disusul oleh kedatangan Anton dan Gaby.

Masuklah mereka berempat ke dalam kamar Jessica. Camy pun membuka mulut untuk bercerita kepada sahabatnya.

"Maaf teman- teman aku sudah mengganggu waktu kalian,langsung ke point aja. Ingat tidak kalian kemarin saat kita berpetualangan menyusuri gedung sekolah? Saat itu Jessica bertanya padaku, aku pergi darimana. Dan aku menjawa dari kamar mandi. Saat itu aku bohong pada kalian, sebenarnya aku dari pojok belakang gudang." Jelas Camy.

"Kenapa kamu berbohong pada kami saat itu?" Tanya Gaby. Anton dan Jessica kebingungan dengan apa yang telah mereka dengar.

"Saat itu aku curiga ada sesuatu yang aneh di pojok belakang gudang sekolah" tambah Camy.

"Lalu, kamu menemukan apa disana?" Tanya Anton.

"Aku menemukan sebuah kotak tua yang tertutupi debu, lalu aku membukanya dan ternyata di dalam kotak itu terdapat peta" jelas Camy.

"Peta?" Serentak Antok, Jessica dan Gab penasaran.

"Iya, peta. Tapi aku tidak tau itu peta apa" jawab Camy.

"Lalu aku berfikir apakah peta ini ada hubungannya dengan mimpi yang sering datang padak itu?" pikir Camy.

"Aku mengumpulkan kalian semua, karena inginminta bantuan pada kalian. Apa kalian bisa membantuku untuk memecahkan teka- teki ini?" Mohon Camy.

"Tentu kami akan membantumu, tapi mulai darimna kita?" Kata Gaby.

"Makasih teman- teman kalian sudah mau membantuku" Camy sangat terharu pada sahabatnya.

"Kita mulai dari peta ini" tambah Camy.

Mereka pun memulai petualangannya yang sudah lama tidak dilakukan bersama sama. Mereka mulai mempersiapkan barang barang yang akan mereka bawa. Lalu mereka pun berkumpul di basecamp mereka yang berada di atas pohon dekat sekolah. Anton pun membaca peta itu, dan peta itu menujukkan untuk mengarah ke lokasi bukit belakang sekolah.

“Apa yang bisa kita temukan disini” kata Jessica.

“hmmm... aku tidak tau” jawab Gaby.

“carilah sesuatu yang mencurigakan”.

Tak lama kemudian Camy menemukan sebuah buku yang terlihat kuno di sekitar pohon tua. Camy pun penasaran apa isi buku tersebut. Camy memanggil sahabatnya, untuk membaca apa isi buku tersebut.

“ Teman – teman ! “ panggil Camy.

“ ya “ serentak Anton, Gaby dan Jessica.

“ Aku menemukan buku ini” kata Camy.

            Camy pun membuka buku itu, lalu membacanya dengan suara lantang. Ternyata isi buku itu mengenai kisah seorang 4 sahabat yang mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki orang pada umumnya. Tetapi mereka tidak tau akan kekuatan mereka. Dewa Erebus memiliki rencana jahat untuk menyingkirkan mereka, ia lakukan itu untuk mendapatkan kekuataan yang dimiliki oleh keempat sahabat itu. Belum akhir sampai cerita, ada 1 lipatan kertas yang berisi “ saling berpegang tangan dan tutup mata kalian lalu membentuk lingakaran - Dewa Erebus” mereka terkejut. Matahari mulai tenggelam, angin berhembus dengan kencang. Mereka melakukan hal yang sama yang tertera pada pesan Erebus itu, mungkin pesan itu ditunjukkan untuk mereka.

            Setelah mereka menutup matanya, mereka seakan – akan berada di gedung yang  setengah hancur dengan suasana malam yang sangat mencengkram. Tiba – tiba ada sosok yang tidak mereka kenali, turun dari gumpalan awan yang mendung disertai petir yang besar.

            “ Akhirnya kalian telah datang padaku” kata Erebus.

“ Kau siapa?” tanya Gaby.

“ Aku adalah pengirim pesan iitu” Erebus.

“ Apa yang kau inginkan dari kami “ tanya Camy.

“ hahaha.... aku ingin kekuatan kalian” sinis Erebus.

“ kekuatan?” tanya serentak Camy, Jessica, Anton dan Gaby.

“ tidak kami tidak punya kekuatan apapun, kami hanyalah manusia biasa” yakin Anton.

“ kalian tidak menyadari, karena kalian tidak pernah menggunakannya” tambah Erebus.

“ jika kita punyapun kita tidak akan memberikannya padamu” Gaby.

            Erebus pun kesal dengan perkataan mereka semua. Lalu menghancurkan seisi gedung itu. Camy pun membalasnya dengan mengarahkan tangan seperti mendorong sesuatu, camy tidak menyangka ternyata Erebus pun terdorong hingga terhempas ke bawah. Ternyata Camy memiliki kekuatan, Anton, Jessica dan Gaby pun tak mau kalah, mereka mencoba kekuatannya dengan gaya masing- masing. Anton ternyata dengan kekuatan lari yang cepat. Jessica dapat berlompat dengan tinggi. Dan Gaby memiliki kekuatan untuk mengalihkan pikiran.

            Setelah Camy menghempaskan Erebus di lanjut dengan Anton yang mengelilingi Erebus dengan berlari cepat untuk membuat Erebus pusing. Lalu jessica menambahkan dengan berlompat- lompat lalu memukul kepala Erebus sampai berdarah. Erebus pun tersungkur lemah. Lalu Gaby membuat Erebus tidak sadarkan diri. Lalu Camy mrnghrntakkan kaki, sehingga Erebus terperosok ke tanah. Lalu tak lama Erebus pun menghilang.

            Lalu mereka berempat membuka matanya kembali. Dan mereka saling berpelukkan satu sama lain. Merasa sangat bahagia, tidak percaya memiliki kekuatan. Dan mereka berhasil menyelesaikan teka- teki mimpi itu.

            Mereka pun kembali pulang dengan rasa bangga. Camy membawa buku untuk melanjutkan membacannya. Akhirnya mereka bisa kembali tenang.

Karya Fathiyah

Secerah Mentari

            Aku menunggu Syifa di depan rumahnya untuk berangkat  sekolah bersama, dia adalah sahabatku sejak SD sampai sekarang SMA yang masih tetap satu sekolah. Aku Sabita, seorang remaja biasa dengan rambut lurus yang panjangnya sepunggung, rambutku biasa aku kuncir kuda, sedangkan Syifa sahabatku biasa berangkat ke sekolah dengan rambut pendek digerai dipercantik oleh bandonya yang selalu dia ganti setiap hari karena koleksi bandonya yang banyak.

            Kami berjalan ke sekolah bersama dan pulang sekolah pun bersama, kami teman sebangku yang sering dijuluki teman-teman seperti amplop dan perangko yang tidak akan lengkap tanpa salah satunya. Tetapi, biar bagaimanapun pilihan kami ada saja yang berbeda, salah satunya dalam memilih ekstrakulikuler, aku lebih memilih paskibra sedangkan Syifa memilih rohis, aku sama sekali tidak mengerti kenapa Syifa memilih ekstrakulikuler itu bukannya melanjutkan paskibra yang telah kami ikuti sejak SMP. Awalnya aku tidak setuju Syifa memilih rohis, pelajaran agama itu sudah ada di pelajaran sekolah. Itulah kenapa aku memilih ekstrakulikuler paskibra, tidak memilih yang berhubungan dengan pelajaran sekolah. Awalnya aku bersikeras agar Syifa ikut ekstrakulikuler paskibra bersamaku, tetapi sekarang aku menyerah membujuknya dan mulai terbiasa kalau pilihan ekstrakuler kami berbeda.

Lima bulan sudah aku duduk dibangku SMA. Bahagia sekali rasanya jika berangkat sekolah di pagi hari dengan cerahnya sinar mentari seperti semangatku berangkat ke sekolah, tak lupa pula disambut juga oleh burung-burung berkicauan seperti hati ini yang sedang menyanyi bahagia. Entah bagaimana, tiba-tiba kebahagiaanku lenyap,  aku dikejutkan oleh sosok Syifa yang berbeda dengan jilbabnya yang terlihat asing dimataku. Aku seperti tidak mengenalnya dan aku langsung berlari menuju sekolah tanpa memperdulikan Syifa yang meneriaki namaku, tetapi akhirnya aku terkejar oleh Syifa dengan lari cepatnya. Aku pun memalingkan mukaku dan tidak menghiraukan Syifa sedikitpun ketika dia terus berbicara panjang lebar.

Dahulu aku dan Syifa sama-sama tidak suka dengan orang yang berjilbab karena terlihat kuno, dan kini aku kecewaa karena Syifa dengan mudahnya melupakan semua itu. Syifa mencoba menjelaskan kenapa dia bisa memakai jilbab dan juga menjelaskan bahwa saat SMP  kelakuan kami yang sering mengejek teman kami yang berjilbab itu salah. Dia menjelaskan juga sebagai muslim yang baik itu harus berjilbab. Aku hanya mengacuhkan semua yang Syifa katakan, begitu juga di kelas dan dimanapun, aku kesal sekarang Syifa yang sekarang   menjadi sok suci dan suka menceramahi aku. Selain itu, berkali-kali Syifa berusaha supaya aku memaafkannya, mulai dari menjemput ke rumahku sampai menungguku sepulang sekolah tetapi hal itu hanya berlangsung beberapa hari, mungkin dia mulai kesal padaku yang sekarang selalu mengacuhkannya.
 

Aku sekarang tidak terlalu dekat dengan Syifa, walaupun kita sebangku tetapi aku selalu berusaha cuek kepadanya. Aku lebih sering bergabung dengan Nara, Santi, dan Rani yang tidak dekat dengan Syifa. Pulang sekolah aku berkumpul lagi dengan Nara, Santi, dan Rani sempat terlintas Syifa dipikiranku, tetapi sudahlah mungkin dia sudah pulang dan aku tidak akan memperdulikan lagi, aku memang berusaha tidak memperdulikannya belakangan ini, tetapi sulit sekali ternyata melupakan Syifa yang sudah lama menjadi sahabatku. Ketika aku berada di tempat yang ramai entah kenapa aku lebih memikirkan Syifa.

Kami menghabiskan waktu di kedai kecil depan sekolah, bukan hanya Nara, Santi, dan Rani saja, ada pula anak-anak laki-laki dari sekolah mereka yang ikut nongkrong di kedai itu. Saat aku sedang asyik menikmati kopi dingin tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundakku, saat aku menengok ternyata dia hanya Roni teman sekelasku, aku tersenyum kepadanya dan menikmati minumanku kembali. Beberapa lama kemudian aku merasa ada yang membelai rambutku, jujur aku merasa terganggu dan aku menepis tangan seseorang yang membelai rambutku itu dan aku tidak mengenal orang tersebut, mungkin kalau dilihat dari tampangnya seperti orang yang berumur tiga puluhan. Aku, Nara, dan yang lainnya baru pulang setelah maghrib dan parahnya ternyata hanya aku yang pulang berjalan, sebenarnya ada dua orang lagi yang pulang berjalan kaki tetapi mereka pulang ke arah yang berlawanan denganku. Sempat aku khawatir dengan perjalanan pulang nanti aku berjalan seorang diri, tetapi aku menghilangkan rasa takutku dan perasaaan lainku  yang campur aduk itu sambil berjalan perlahan menuju ke rumah.

Semilir angin malam yang sejuk membuat rambutku yang sengaja tergerai terkibas cantik oleh angin, untungnya kedai itu letaknya di depan sekolah jadi tidak terlalu jauh untuk menuju ke rumahku. Di perjalanan pulang aku melewati rombongan laki-laki yang masih mengenakan seragam sekolah yang tidak aku kenali, aku tetap berjalan santai, tetapi tiba- tiba mereka menggodaku, ada yang menepuk kepalaku hingga mencolek-colek pipiku, aku ingin marah tetapi aku takut karena rombongan mereka sangat banyak, aku ingin teriak tapi aku takut mereka semakin senang menggodaku, aku merasa diriku tidak berharga karena telah di sentuh seenaknya apalagi oleh orang-orang itu yang sama sekali tidak aku kenali.  Aku langsung berlari secepat yang aku bisa menuju ke rumahku, ingin rasanya aku langsung menuju ke rumah Syifa yang letaknya tidak jauh dari rumahku, tetapi aku kurungkan niat itu.

Keesokan harinya aku masih melanjutkan kebiasaanku yang suka pulang malam, walau kejadian kemarin membuatku kesal tetapi sekarang aku mulai terbiasa dengan itu walaupun belum puas rasanya jika belum bercerita dengan Syifa. Kali ini aku dan teman-temanku mampir di warung steak yang letaknya sedikit lebih jauh dari sekolah. Saat aku sedang asyik menyantap steak tiba-tiba ada dua orang pria yang memakai masker tiba-tiba mereka mengrahkan celurit mereka ke arah kami, kami pun ketakutan dan hanya bisa angkat tangan. Kalung emasku diambil oleh salah satu dari mereka dengan kasarnya dia melepaskan kalung emas kesayanganku itu dari leherku, aku hanya bisa menangis karena aku sangat ketakutan, tetapi beruntung dari kami tidak ada yang terluka. Setelah kedua orang itu sudah pergi, aku dan teman-temanku langsung pulang ke rumah msing-masing, beruntung kali ini ada Rani yang hanya naik motor sendiri dan rumahnya searah denganku.

Sesampainya aku di rumah, aku langsung mandi dan mengenakan piyamaku. Aku keluar menikmati angin malam sambil merenung di balkon kamarku yang hanya di temani oleh cahaya bulan tanpa bintang, rasanya sepi seperti diriku tanpa Syifa. Aku berfikir dengan semua yang Syifa katakan padaku satu persatu ketika aku mengacuhkannya, aku sadar semua orang punya kebebasan masing-masing, tidak akan bisa aku yang hanya seorang sahabatnya mengatur dia semauku. Aku sadar selama ini sedekat apapun aku pada teman-temanku, aku hanya bisa bercerita tentang kesenangan dan kesedihan hidupku kepada Syifa, karena di akhir ceritaku dia selalu memberiku nasihat ataupun saran yang baru aku sadari jika itu sangat berguna. Tekadku sudah bulat, besok aku harus meminta maaf kepada Syifa.

Pagi ini mentari tampaknya sebagian terhalang awan gelap, langkah kecilku berjalan ke arah rumah Syifa. Hatiku tidak tenang memikirkan apa yang nanti akan terjadi, apakah seperti mentari yang bersinar dan tak terhalang awan gelap lagi, atau apakah seperti mentari terhalang awan kemudian hujan, aku terus menerus memikirkannya sejak aku bangun tadi.

Aku membunyikan bel rumah Syifa, lalu menunggu Syifa dengan keadaanku yang tak menentu. Aku langsung memelukya ketika dia keluar dari pagar rumahnya. Aku meminta maaf kepada Syifa dan aku mengakui itu semua terjadi karena kesalahanku, Syifa terlihat sangat senang karena kami sudah bermaafan. Aku langsung bercerita banyak kepada Syifa tentang apa saja yang terjadi selama aku tidak bersamanya, begitu juga dengan Syifa yang juga selalu berbagi ceritanya denganku. Kami bercerita sejak berjalan dari rumah ke sekolah hingga saat di sekolahpun masih saja bercerita. Beberapa hari hanya diam dengan teman sebangku itu rasanya hambar, beruntung manisnya telah kami kembalikan hari ini. Ketika aku menceritakan tentang orang-orang yang menggangguku sampai ada perampok yang mencuri kalungku Syifa terlihat sangat kesal, dia sampai mengepalkan tangannya ketika aku menceritakan tentang hal tersebut. Syifa memberi saran kepadaku untuk memakai jilbab, tetapi aku hanya terdiam termenung, walau sarannya benar juga, andai saat itu aku memakai jilbab pasti tidak akan banyak yang menggangguku dan andai kemarin aku pakai jilbab pasti hingga kini kalung kesayangan dari nenekku pasti masih tetap cantik di leherku, namun hal itu hanya aku pikirkan sesaat dan aku memutuskan untuk melupakan kejadian-kejadian yang lalu.

Aku senang sekali karena mentari bersinar cerah hari ini, seperti memihak padaku karena aku dan Syifa sudah berbaikan. Saking senangnya aku mengajak Syifa ke mall sepulang sekolah. Aku dan Syifa berjalan-jalan ke mall yang letaknya tidak jauh dari sekolah kami, sudah lama sekali rasanya kami tidak pernah berjalan-jalan bersama lagi. Kami memutuskan untuk makan kemudian melihat-lihat baju, entah kenapa aku setuju dan mengikuti Syifa memasuki salah satu toko busana muslim yang letaknya strategis di mall tersebut. Aku tertarik dengan salah satu baju lengan panjang yang ada di sana dan kebetulan baju lengan panjangku memang tidak banyak, sedangkan Syifa membeli rok dan jilbab yang cantik. Sebenarnya aku juga suka dengan jilbab yang Syifa beli, tetapi kupikir lagi kalau aku beli pun tidak akan aku pakai.

Kami mengantri di kasir, di belakang kami tampak seorang anak kecil yang kira-kira berusia delapan tahun dengan wajah ceria dan jilbabnya yang lucu, anak itu digandeng oleh ibunya yang membawa beberapa baju di tangan satunya. Tiba-tiba anak itu melihatku dari atas sampai bawah, entah kenapa aku malu karena tangan dan rambutku masih terlihat, tiba-tiba saja anak itu menarik jilbab yang akan dibeli oleh ibunya dan menarik tanganku agar aku menunduk, tanpa aku sangka anak itu tersenyum sambil memakaikan aku jilbab yang akan dibeli oleh ibu anak itu, kemudian anak itu berbisik kepadaku kalau aku lebih cantik menggunakan jilbab. Ibunya langsung meminta maaf kepadaku atas ulah anaknya itu, aku hanya tersenyum tidak bisa berkata apa-apa, hatiku sangat tersentuh. Syifa yang sejak tadi melihatku terlihat tersenyum.

Setelah kami keluar dari toko tadi, kami memutuskan untuk ke toko buku dan kami membeli beberapa buku. Saat aku dan Syifa akan pulang, kami melewati toko pakaian yang tadi. Entah kenapa tiba-tiba aku meminta pendapat Syifa bila aku menggenakan jilbab, aku merasa malu kepada anak itu dan juga kepada Allah karena tidak mentaati kewajiban-Nya. Akhirnya saat itu juga aku memutuskan untuk kembali lagi ke toko itu dan memilih beberapa jilbab untuk sekolah dibantu oleh Syifa dan juga membeli jilbab yang tadi Syifa beli. Syifa terlihat bahagia dan semangat, padahal dia sudah memberiku saran ketika tadi aku bercerita diganggu laki-laki maka harus dibantu dengan perempuan yang menjaga auratnya, tetapi entah kenapa saat itu hatiku belum tersentuh dan kepolosan anak kecillah yang akhirnya membuatku tersadar.

Hari ini Syifa yang menyampar ke rumahku untuk berangkat ke sekolah bersama, dia terlihat senang dan memelukku ketika aku keluar rumah menggunakan jilbab. Kini aku sadar jika jilbab bukan hanya sekedar kewajiban tetapi juga kebutuhan agar kita selalu terhindar dari hal yang tidak kita inginkan. Di hari pertama aku mengenakan jilbab yang sesungguhnya, hari ini pula aku bergabung di rohis bersama Syifa dan teman-teman rohis lainnya, seperti mentari cerah hari ini yang ikut senang karena aku berjilbab. Aku tersadar seharusnya aku seperti mentari yang silau supaya menundukan pandangan laki-laki, bukan menjadi seperti bulan yang bisa dipandang seenaknya.


Dengan jilbab aku menjadi lebih nyaman, tidak ada lagi yang menggangguku dan aku merasa diriku sangat berharga dan tidak akan ada sembarang orang yang melihat auratku. Jilbabku yang awalnya hanya melindungi aurat, sekarang juga telah melindungi hatiku dari hal-hal jahat dan membuatku belajar lebih banyak untuk taat kepada-Nya. Sekarang aku lebih rajin membaca Al-Qur’an dan buku-buku islam, shalatku tidak bolong-bolong lagi dan mulai tepat waktu, tak lupa juga persahabatanku dengan Syifa yang semakin erat.

Selasa, 25 Oktober 2016

Karya Rizka A.

SINCE WE MEET

Bruuuukkk!!! “Aaaaaauwhh” teriaku kesakitan. Tidak sengaja aku menabrakan diriku pada seseorang. Dan seseorang itu ternyata adalah Dika. Dia adalah cowok terkeren di sekolah ini. Dan asal kalian tau dia itu Kapten Basket. Waaww gimana gak banyak cewek yang suka sama dia termasuk aku sih... hehehe. “heiii.. lo gak papa?” Tanya Dika sambil mengulurkan tangannya. Dika membantu aku bangun tapi aku rasa kakiku terkilir. Rasanya sakit banget. Dika nyoba bantuin aku berdiri lagi, tapi sayangnya gak berhasil. Aku hanya tertunduk sambil memegang kakiku yang sakit banget.

“auww..sakittt” aku menjerit dan tanpa sadar air mataku mulai menetes. “Ceroboh banget sih jadi cewek. Kalo jalan tu liat-liat dong, jangan meleng. Kalo lo kenapa-napa gimana?? Gue juga kali yang repot! Katanya kasar.

“simpatik dikit kek. Iya gue tau, kalo gue itu ceroboh. Tapi seenggaknya lo jangan marahin gue kaya gitu dong! Teriaku padanya sambil nahan sakit. Dan dika hanya terdiam saat aku bicara seperti itu.

“mana yang sakit??” katanya sambil pegang kakiku. “udah deh, gak usah cengeng” katanya datar dan mengusap pipiku. Aaaaa, pipi gue dipegang sama Dika. Mungkin ini emang sakit, tapi  kalo obatnya ganteng kaya gini ya terima aja deh wkwk.

“huuuuu, bantuin dong, kaki gue sakit banget nih!” jeritku sekali lagi. Tanpa sadar ternyata Dika menggendongku, dan membawa aku ke UKS. Aaaa,sekali lagi Dika buat jantungku berdebar gak karuan. Saat sampai di UKS dia langsung meletakkanku di tempat tidur yang berada di UKS. Dengan cepatnya dia mengambil minyak gosok dari laci. Dan mengoleskan minyak itu ke kakiku dan mulai memijitku.

“oh iya, btw nama lo siapa ya? Udh lama kita bicara tapi gw belum kenal lo” tanya nya.

“nama gue, Laura Kirana”ucapku dengan pelan.

“Nice name” katanya sambil tersenyum.

“ehh, kok lo gak kenal gw sih? Kita kan sekelas.” Kataku jengkel.

“ha? Really? Kok gue gak pernah tau kalo lo sekelas sama gue” katanya sambil tertawa.

“ihh, kok lu gitu sih” kataku dengan suara males.

“hahaha, canda kali ra. Gue tau kok nama lo, jangan marah dong” katanya sambil jitak kepalaku.

“heiii, sakit tau, gak usah tambah penderitaan orang deh” heeee, menjengkelkan banget sih nih orang.

“hahaha, sorry gak sengaja. Alias sengaja.” ucapnya sambil tertawa puas.

“lu tuh ya seneng banget sih ketawain orang, sampe-sampe orang yang lagi kesakitan gini lo ketawain” kataku murung.

“ketawa itu sehat kali, lu juga sih lucu, hahaha”katanya sambil tertawa lagi.

Whatt!!  Dia bilang aku lucu, aaa serius, ini bukan mimpi kan. “apanya coba yang lucu, gak usah ngada-ngada deh” kataku sambil duduk dan mencoba untuk berdiri.

“ehh, lu gak usah diri dulu kali, kaki lu bukannya masih sakit?” katanya sambil dengan cepat dia pegang tangan ku. Aaaa, dan untuk sekian kalinya dia buat hatiku berdebar dan rasanya pengen meledak.

“gak kok, gue udah gak sakit lagi” kataku sambil tersenyum. “sini gue bantuin, ntar lo malah jatoh lagi, kan itu lucu, wkwk” ucapnya. Ihh nyebelin banget sih nih cowok, masa kalo gue jatoh itu lucu bagi dia.

“nyebelin banget sih!” kataku sambil marah. “heyy, kidding girl, lo juga cepet marah, ntar tambah tua loh, wkwk” katanya sambil ketawa. “haa? Tambah tua? Emang gue tua banget ya?” tanyaku. “iya gak sih, tapi kalo lu marah-marah terus, lu bisa cepet tua” katanya halus. Perhatian banget sih nih cowok. “iya deh kakak, wkwk.” “kakak? Hey kita seumur kali, napa lo manggil gw kakak?” katanya bingung “abisnya muka lu kaya kakak gue, dan lu itu sok dewasa nasehatin gue!” kataku sambil tertawa licik.

“gue nasehatin lu itu juga untuk kebaikan lu kali, dan jangan manggil gue kakak lagi, gue masih muda kali”katanya

Aaaa, perhatian banget sih nih cowok. Dika lo bikin gue melting.

“iya,iyaaa, deh kakak, upss keceplosan, wkwk” kataku sambil ketawa.

“nih, anak dibilangin ngeyel banget sih,udah deh sekarang mendingan kita ke kelas,dikit lagi bel”
Sambil memegang tanganku.

Dika menuntun aku berjalan dengan perlahan. Sampai pada akhirnya kami sampai di kelas. “Ciee...ciee, kayanya mesra banget  tuh” kata teman ku Hana. Hana adalah teman baikku, kami sering nyanyi bareng. Dan asal kalian tau Hana itu pinter banget main gitar. Perfect kan udah cantik, pinter, trus lucu lagi orangnya. “udah deh na gak usah bikin orang marah, kaki gue sakit tau.” Kataku sambil marah. “ra, jangan marah terus dong ntar makin tua loh,wkwk” ucapnya sambil tertawa kecil. Tadi Dika yang bilang gue tambah tua, sekarang Hana yang bilang gue makin tua. Emang gue setua itu apa? “haha, Hana aja bilang lu makin tua, berati bener apa yang gue bilang”katanya sambil membantu ku duduk dengan perlahan. “udah ya Dik, gak usah bikin gue marah lagi,ntar gue tambah tua?!!”kataku. “haha, iya santai kaleee”  katanya sambil ngacak rambutku. Entah kenapa si Dika tuh selalu aja ngacakin rambut gue. Yaa, mungkin aja sih dia tuh ngefans sama rambut gue. Secara rambut gue itu bagus gilak.

KRINGGGG!! Bel pun berbunyi itu tandanya jam istirahat udah selesai. Pelajaran selanjutnya itu adalah Matematika. Arghh, gue paling benci pelajaran ini. Entah kenapa, pas kelas 9 gue makin males sama pelajaran ini.

“Ya, mari kita buka buku halaman 124, kali ini kita akan belajar mengenai Pengumpulan data” ucap Pak Joko.

Gak terasa dua jam pelajaran ini aku lalui dengan tidak semangat dan merasa ini kaki itu masih sakit. Dan aku dari tadi ngerasa kalo Dika itu ngeliatin gue terus. Mungkin dia masik panik karna kejadian tadi kali ya. Gue bisa liat dari raut wajah dia, yang panik banget.

“Laura..” terdengar seseorang memanggilku. Dan ternyata itu Dika. Dia langsung duduk di sebelah ku.

“Are you okay, Ra?” tanya Dika khawatir. Aaa, Dika nanyain gue. Aakkk, perhatian banget sih ni orang.

“Baik kok, tumben banget lo nanyain kabar gue, biasanya lo cuek aja sama gue” kata gue sambil menaikan satu alis.

“Emm, e, eng,enggak kok, gue dari tadi ngeliat lo itu diem terus jadi gue kira lo masih sakit karna kejadian tadi” katanya gugup

“Hahaha, jadi lo kuatir sama gue?”

“Tau ah gelap, perhatian salah, gak perhatian salah, mati aja lo!” katanya sambil berdiri dari bangku sebelah gue.

“Heyy, take easy bro. Woles dong, iya-iya emang sih gue masih sakit, tapi itu sedikit kok. Btw makasih ya, udah mau perhatian sama gue.” Ucapku sambil pegang tangan dia. Oh God, apa coba yang gue lakuin, kenapa gue bisa megang tangan dia gitu. Rasanya pengen teriak gitu.

“Hmm, don’t mention it girl” sambil lepasin tangan aku dan kembali ke mejanya lagi.

Kringgg!! Bel pulang sekolah pun berbunyi.

“Raaaa!” ternyata itu Hana yang berlari menghampiri gue.

“Ada apaan na?”tanya gue.

 “Lo pulang bareng siapa?”Tanya Hana.

 “Sama siapa lagi kalo bukan lo”kataku.” Ya asal kalian tau kalau rumah kami itu deket, mungkin beda beberapa rumah aja. Jadi kami selalu berangkat dan pulang bareng.

“Sorry banget Ra, kali ini gue gak bisa pulang bareng lo, gue harus jenguk oma gue di rumah sakit,lo gak papa kan kalo gue gak bareng lo?”ucapnya.

“Hmm, yaudah, gak papa kok, rumah deket ini,btw GWS ya buat oma lu” kataku sambil menepuk bahu Hana.

“Oke lah, gue cabut dulu ya, byee Raa” ucapnya sambil meninggalkan kelas.

Aduh, harus nurunin beberapa tangga dulu lagi. Kaki gue kan sakit, gimana nih. Perlahan-lahan aku nurunin tangga. Dan ternyata aku hampir kehilangan kendali dan mau jatoh. Dan ternyata ada tangan yang megang gue, ternyata itu Dika.

“Raa, pelan-pelan dong kalo jalan, kalo lu jatuh lagi gimana, trus kaki lu patah gimana? Kan gue tambah repot lagi”ucapnya halus setengah tegas sambil membantu aku tegak berdiri.

“Huaa, maap gue tadi hilang kendali pas mau turunin tangga, kan lu tau kalo kaki gue masih sakit, jadi ya begitulah.” Kataku pelan

“Yaudah sini gue bantuin lo turun.” Dan akhirnya Dika yang bantuin gue turun dengan selamat.

“Thx Dik, kalo gak ada lo mungkin gue udh jatoh lagi”

“Hahaa, urwell girl” sambil nyubit pipiku. Selain suka ngacakin rambut, nih orang juga sering banget nyubitin pipi orang.

“Arghh”desah ku. “Lo pulang bareng siapa Ra? Tumben lo gak sama si gendut?” asal kalian tau Dika itu kalo manggil Hana pasti si gendut. Tapi ya emang kenyataan si, badan Hana itu gendut. Eh, walapun gendut, tapi tu orang baik lo pinter main gitar lagi.

“Hmm, Hana pulang duluan dia mau jengukin omanya”

“Kalo gitu pulang bareng aja, rumah kita kan searah” katanya sambil ulurin tangannya.

Gue gak mau nolak kesempatan besar ini dong. Ini merupakan kesempatan langka buat gue. Dan kami pun menuruni tangga, tangan Dika masih memegang tangan gue. Aaaaa sumpah jantung gue berdebar kerassss!! Jiahh lebay wkwk.

“Raa? Heyy? Jangan bengong kalee, gue tau kalo lo terpesona sama gue, yeeekann?” sambil menaik turunkan tangannya di depan mataku. Sumpah nih orang kepedeannya tingkat dewa banget. Tapi yang dia bilang emang bener sih, wkwkwk.

“Haaa? Terpesona sama lo, jihh gak banget keless”  ujarku

“Hahaha, gak usah boong deh gue tau kalo lo daritadi terpesona ngeliat gue” ujarnya sambil memegang keranya. Eh tapi yang dia bilang bener juga sih, hahaha.

“Woyy, mau pulang gak nih? Gue udah laper tau!” katanya keras yang membuat aku terkaget.

“Iya,iya, gak usah teriak juga kale, kuping gue masih bisa denger jelas kok” ujarku sambil menaiki motornya.

“Ehh, btw pegangan yang keras ya” ujarnya sambil menyalai mesin motornya. Dan siapa sangka ternyata dia mau  bikin gue mati. Dia ngendarain motor itu dengan kecepatan tinggi.

“DIKAAAA!! PELAN-PELAN! INI BUKANYA PULANG KERUMAH GUE TAPI KERUMAH TUHAN!” ujarku sambil berteriak di kupingnya dan memeluk dia erat. Gue meluk dia erat karna gue gak mau umur gue singkat. Dan ternyata dia Cuma ketawa, WHAT THE HELL!!

“Heyy, udah sampe, lu masih mau duduk disitu?” katanya sambil berjalan menuju taman. What? Kok gue disini, seharusnya gue udah ada di rumah. Apa jangan-jangan ini di surga?

“Woyy, jangan ngelamun, ntar ada setan masuk aja, baru nyaho lu” katanya sambil mengagetkanku.

“Ehh, kok kita disini sih?”tanyaku heran

“Hemm, gue mau ngomong sesuatu sama lo” ujarnya sambil menarik tanganku dan membawaku untuk duduk di bangku taman itu.

“Lo mau ngomong apa?” kataku datar

“I LOVE YOU” katanya dengan suara kecil

“Ha? Apa? Lo mau minum jus?” kataku sambil terperanga mendengar kata-kata dia.

“Hemm, lu tu emang telmi ya, Ra”katanya cemberut

“Ehh, seriusan lo tadi ngomong apa?”kataku penasaran

Dan dengan suara kencang dia berkata “I.LOVE.YOU.LAURA KIRANA.” Haa? Dika tuh ngomong serius ato gak sih? Apa dia sekarang lagi nembak gue?

“Haa? Are you serious?” ujarku sambil menaikan sebelah alis mataku.

“Gue serius, mau jadi pacar gue?” katanya sambil berdiri dan memegang setangkai mawar.

“Hemmm” kataku dengan wajah menunduk ke bawah tanah.

Dan gue liat dia udah megang gitar yang entah kapan dia bawa itu.
Girl your heart, girl your face
Is so different from them others
I say you’re the only one that i adore

Aaaa suaranya keren banget!! Gue hanya bisa cengo ngeliatinnya.
Cos everytime you’re by my side
My blood rushes through my veins
And my geeky face,blushed so silly

And i want you to be mine
Saat lirik itu dia ngeliat ke aku trus dengan wajah memohon gitu.
Oh baby i’ll take you to the sky
Forever you and i,you and i
And we’ll be together till we die
Our love will last forever, and forever you’ll be mine
You’ll be MINE

*Petra Sihombing-Mine*


“Be mine please?” katanya sambil jongkok di depan aku.

            “ Aku boleh minta alesan kenapa kamu nembak aku gak?” ujarku

            “Aku udah cinta sama kamu sejak pertama kita bertemu waktu kelas 7 dan sampe saat ini pas kita kelas 9, sekarang aku kira udah waktunya untuk nyatain cinta ke kamu, Ra” katanya sambil memegang tanganku. Aaaa, aku yakin muka aku udah merah karna kata-kata itu. Dan aku gak nyangka ternyata Dika cinta sama aku dari kelas 7. Double waw.

            “Masa sih? Aku kok gak percaya ya?” kataku dengan muka tidak percaya.

            “Raaa, lu tuhh emang ya, susah banget kalo ngomong sama lo” katanya dengan muka cemberut dan ingin meninggalkanku disini. Aaaa, ternyata Dika gampang ngambek. Tapi dia lucu banget kalo lagi ngambek gitu.

            “Heii, jangan marah dong, ntar makin tua deh” kataku sambil menarik tangannya

            “Jadi mau gak?” katanya sambil melepas tanganku dan kembali memegang mawar itu.

            “Hemm, mau gak ya? Ambil gak ya?” kataku dengan suara yang meledek

            “Kan, yaudah deh kalo gak mau, mending pulang aja” dan dia cemberut lagi, dan kali ini kayanya dia bener-bener marah.

            “Dikaaaa, jangan marah dong, mau gak nih jawabannya?”kataku sambil melihat mukanya yang daritadi udah kaya ayam mau bertelor.

            “Mauuuu!!” sumpah 180 derajat nih orang berubah, pas gue ngomong itu. Hahaha, sumpah ngakak banget mukanya.

            “Iya, gue mau jadi pacar lo” ujarku sambil mengambil mawar yang tadi dia pegang. Dan bisa gue lihat senyumnya itu manis bangettt. Aaa, melting.

            “Love u Laura” katanya sambil tersenyum

            “Love u too Dika” kataku sambil membalas senyumannya
Ehh, daritadi gue ngerasa ada yang ngeliatin dari balik semak-semak loh.

            “Cieee, yang udah jadian, PJ,PJ, wkwk” kata Hana sambil menyenggolku.

            “Ehh, tunggu-tungu bukanya lo tadi mau pergi jengukin oma lu y?” kataku penasaran. Dan aku curiga kalo Dika sama Hana udah ngerencanain ini semua. Aaaa kalian semua jahat, eh gak deng kalian semua baik, hahaha.

            “Hahaha, yap bener,Ra, gue yang ngerencanain ini semua” dengan muka tanpa dosa Dika ngomong itu. Kenapa tu anak tau apa yang gue pikirin tadi ya? Apa jangan-jangan dia bisa baca pikiran orang?

            “Hehe, iy,Ra, gue tadi disuruh Dika untuk boong sama lo, wkwk” dan dengan muka tanpa dosa juga Hana ngomong itu.

            “Hemm, kalian ini, yaudah deh, mending kita pergi ke cafe deket sini, Dika mau nraktir loh” kataku sambil menyenggol dia
            “Yaudah yok jalan, ntar keburu sore loh” ujarnya sambil menarik tanganku.

            “Yeyy, gue dapet traktirann, hahaha” kata Hana dengan muka yang gembiranya gak kepalang.

Itu merupakan hari terindah bagiku walaupun tadinya sempet jatuh, tapi dibangkitin lagi sama Dika. Sekarang Dika jadi pacar aku, aku nggak pernah nyangka kalo bisa jadi pacar kapten basket yang terkenal di sekolah. Ya, mudah-mudahan hubungan kami bisa langgeng. Hehe.



(Rizka Anindya Manjayani)