Selasa, 25 Oktober 2016

Karya Rafif A.

Sate


             Pada suatu malam, Adul, Apeng, dan Ate sedang bermain Playstation atau yang sering disebut PS, di rental PS 2 daerah Kalisari. Ketika Adul, Apeng, dan Ate sedang asik bermain PS, tiba-tiba terdengar suara teriakan “Sateeeeeee.....”.
 
            Karena suara tersebut, Ate merasa terpanggil dann menjawab suara teriakan tersebut “Apaan Gaessss??”.

            Seketika suasana menjadi hening dan tiba-tiba terdengar suara “Drakkkk!!!” seperti suara mobil yang jatuh bebas dari langit dan menghantam permukaan yang tak bersalah.

            Ternyata suara tersebut adalah suara barang dagangan Tukang Sate yang dibanting dengan sangat keras oleh Sang Tukang Sate. Lalu Tukang Sate tersebut dengan amarahnya masuk ke dalam rental PS tempat Adul, Apeng, dan Ate bermain.

            Tukang Sate tersebut membentak dengan logat orang Madura yang sangat khas “Siapa tadi yang mau beli sate tayyyeee?! Saya jualan bukan untuk bercanda tayyeeeeee!!”.

            Adul, Apeng, dan Ate pun mulai panik dengan wajah memerah seperti dikejar oleh anjing. 

            Tukang Sate kembali bertanya dengan lantang “Siapa tadi yang ngomong?!”. 

            Lalu Adul, Apeng, dan Ate berdiskusi dengan panik “Eh Te, ngaku lu Te sono!”, ujar Adul. 

            “Ah ogah ah, nanti gua dibentak, bisa-bisa kena tampol gua, Lu gak denger apa itu Dia marah-marah kayak cewe lagi PMS”, sahut Ate. 

            “Eh Te, buru ngaku bego lu!”, sahut Apeng dengan wajah panik.

             Tiba-tiba pemilik rental PS datang dan berbicara dengan lemah lembut ke Tukang Sate menjelaskan bahwa anak-anak tersebut hanyalah salah sangka.

             “Jadi gini Pak, Anak itu namnya Ate, ia mungkin merasa terpanggil karena suara Bapak”, ujar Sang Pemilik Rental sambil menunjuk Ate. 

            Ate tiba-tiba menyahut “Iya Pak, Saya kira Bapak itu Ayah saya yang nyariin Saya”. 

            Akhirnya Tukang sate memaklumi dan berkata “Awas aja Kau seperti itu lagi, saya hajar muka Kau!!”.

            Lalu dengan wajah kesal dan hati yang lebih kesal, Tukang Sate pun pergi meninggalkan rental PS tersebut. Adul, Apeng, dan Ate pun merasa lega dan menarik nafas yang panjang.

            “Untung ae kagak ditampol muka gua”, ujar Ate sambil membuang nafasnya dengan lega. Mereka pun melanjutkan akitifitas mereka, yaitu bermain PS.



np: Azmi love Azizah

Karya Rizky E. (Sang Pembuat Blog)

SAHABAT

            Aku Sam. Aku adala anak dari juragan tanah dan juga ibu sosialita, seperti itulah mereka mengenalku. Walau hidup serba tercukupi tapi aku miskin teman, bukan karena aku tidak mau bergaul tapi mereka selalu memanfaatkanku. Aku hanya memiliki satu orang sahabat dia baik dan juga pengertian, dia juga tidak pernah memandangku dari segi harta tapi dia memandangku dari segi perilaku. Dia bernama Exel.

            Seperti biasa matahari menyinari pagi yang indah. Aku bergegas berangkat ke sekolah, tidak lupa aku berpamitan kepada ayah dan ibuku.

“Yah… Bu… Aku berangkat sekolah dulu yaa.” Kataku.

“Hati – hati ya nak.” Balas mereka.

“iya…” Balasku.

            Akupun berangkat menggunakan sepeda dan tak lupa aku mampir kerumah Exel untuk mengajaknya ke sekolah bersama. Sesampainya dirumah Exel aku langsung mengetuk pintu rumahnya.

“Assalamu’alaikum.” Kataku.

“Wa’alaikum salam.” Jawab orang rumah.

            Aku tidak tahu siapa yang menjawab salamku tadi. Tiba – tiba sesosok wanita muda yang cantik jelita keluar dari rumah tersebut dan ternyata ia adalah kakaknya Exel. Ia bernama Arin.

“Hai kak Arin. Apa kabar?” Kataku.

“Baik kok. Mau cari siapa sam?” Jawabnya.

“Exel kak” Balasku.

“Ada, tunggu ya” Balas Kak Arin.

“Baik kak” Jawabku.

            Tanpa berbicara apapun lagi Kak Arin masuk kerumah dan memanggil Exel. Exelpun keluar dengan terburu – buru.

“Maaf Sam kamu harus nunggu aku hehe.” Kata Exel.

“Iya gapapa. Ayo cepat nanti kita telat.” Balasku.

“Ayo aku udah siap nih.” Jawab Exel.

            Dia mengambil sepedanya. Di perjalanan kami berdua bercanda dan tertawa membicarakan hal yang kami anggap lucu dan menarik. Karena terlalu asik bercanda kami lupa kalau sedang terburu buru. Kami langsung memacu sepeda dengan kecepatan penuh, tapi karena terlalu kencang aku pun menabrak sebuah pohon dan aku tidak mengingat apapun lagi setelah itu. Aku terbangun dan sudah mendapatkan diri terbaring dirumah sakit dan melihat kedua orang tuaku berada disebelah tempat tidurku.

“Aku dimana?” Tanyaku.

“Kamu lagi dirumah sakit nak.” Jawab Ibu.

“Kenapa aku bisa berada disini?” Tanyaku lagi.

“Tadi kamu kecelakaan dan Exel membawamu kerumah sakit ini.” Jawab Ayah.

“Terus dimana Exel?” Tanyaku.

“Aku disini.” Jawab Exel.

“Makasih ya kamu udah bawa aku kesini. Kamu emang sahabatku paling baik.” Kataku.

“Ya itulah gunanya sahabat hehe.” Katanya.


            Tiga hari kemudian aku sudah sembuh dari lukaku dan bisa pulang untuk melakukan aktivitasku seperti biasa. Sejak itu juga kami saling menjaga satu sama lain dan akan tetap menjadi sahabat.

Karya Annisa S.

Kado Istimewa

            Hai, aku Dini, remaja 16 tahun yang duduk di kelas XI. Di sekolah aku memiliki 5 sahabat yaitu Aurel, Rani, Bayu, Radit dan Dimas. Kami membentuk sebuah geng bernama “geng kupu”.  Tak hanya sekedar nama, filosofinya adalah kami ingin persahabatan ini seerat kepompong dan seindah kupu-kupu. Geng kami bertujuan untuk kegiatan positif dari mulai belajar kelompok hingga bakti sosial bukan untuk memalak, tawuran apalagi penindasan. Cukup ya perkenalannya, aku lelah mau tidur.

            Alarm berdering, ayam jago saling mengadu suara, matahari mulai tersenyum, aku bergegas bangun dengan mata kantuk dan senyum lebarku. Aku sangat senang, ini hari ulang tahunku. Aku tak sabar mendapat ucapan dan kado dari teman – teman, aku juga ingin mentraktir mereka makan bakso di depan sekolah. Ku bersiap secepat kilat sampai lupa bahwa hp ku tertinggal, untung saja cepat ingat. Sesampainya disekolah, Aurel dan bayu sedang mengobrol di depan kelas, aku menyapa riang namun hanya senyum tipis yang terlukis di wajah mereka dan langsung masuk ke kelas.

            Di kelas, hanya ada aku dan kelima sahabatku, memang masih pagi sekali jadi siswa belum pada datang. Terlihat Rani teman sebangkuku yang sedang merapikan laporan yang akan dikumpulkan hari ini, ku sapa tapi wajahnya seperti tembok yang tanpa ekspresi , aku mengerti bahwa ia sedang sibuk. Tiba – tiba Rani berbicara bahwa ia ingin ke koperasi bersama Aurel dan menitipkan tugasnya kepadaku. Bayu, Radit dan Dimas juga beranjak keluar entah mau kemana. Sebenarnya aku takut sendirian dikelas, aku memang penakut. “Aduh”, aku menjerit kecil, perutku sakit seperti tertusuk – tusuk ribuan jarum. Aku sudah tak tahan, bergegas ke toilet dan meninggalkan tugas Rani diatas meja.

            Sesampainya di kelas, murid – murid sedang menenangkan Rani yang sedang menangis. Saat aku tanya, tangisnya justru semakin kencang. Seketika Aurel mendorong ku dan berkata bahwa aku yang menyebabkan semua ini. Laporan Rani hilang karenaku meninggalkannya. Aku terkejut, sungguh aku tidak sengaja, aku sudah meminta maaf dan menjelaskan yang sebenarnya namun mereka tidak percaya. Seisi kelas memandangku dengan tatapan sinis dan curiga. Aku sangat merasa bersalah, aku pun tak mengerti mengapa tidak ada yang mempercayaiku bahkan sehabatku sendiri. Mulai detik ini, persahabatanku hancur. Aku, Rini dan lainnya diam seribu bahasa.
           
Bel pulang berbunyi pukul 13:00 ,  mereka pulang tanpa melirikku sedikitpun, mereka pulang bersama tanpa aku. Sesampainya di rumah, aku langsung ke kamar dengan muka murung yang kusut. Aku menangis menatap mendugnya langit, kenapa semua ini terjadi di hari istimewaku. Sungguh diluar ekspektasiku. Hp-ku berdering kencang, aku tak peduli siapa yang menelpon, ku tak mau mengangkatnya. Hp berdering lagi pertanda panggilan kedua, tercantum nomor tak dikenal. Dengan berat hati aku mengangkatnya, mungkin penting. Terdengar suara lelaki setengah baya yang mengatakan bahwa Rani diculik olehnya, dalam waktu 1 jam jika aku tidak bisa menemukannya, maka Rani akan mati ditangannya. Ku tersentak dan menyeka air mataku. Dia sahabatku dan aku harus menyelamatkannya, aku bergegas ke sebuah gedung tua tempat Rani disekap.

Gedung yang terdiri 8 lantai ini tak terawat. Aku ragu untuk masuk ke dalamnya, aku takut, suasananya gelap dan mencekam. Namun demi Rani, aku akan melakukan apapun untuknya. Keadaan di dalam gedung sangat kotor, cat dinding yang terkelupas, sarang laba – laba dan daun kering yang berserakan, suasana sunyi tak bernyawa. Terlihat tanda panah untuk menaiki tangga menuju ke lantai dua, aku melihat sekeliling dengan senter dan perasaan gelisah. Di lantai dua terdapat banyak kamar, mungkin kantor atau losmen dulunya. Aku menuju ke salah satu kamar, terletak cermin besar yang telah retak dan bertuliskan “kamar dengan lukisan naga diatas pintunya!”. aku menyenter sekeliling ruangan, tak ada pintu dengan lukisan naga diatasnya, aku terus mencari. Ternyata aku sudah mebuang waktu 10 menit tapi aku belum mendapat petunjuk apapun.

Akhirnya aku menemukan pintu itu sambil melompat kegirangan, di dinding tertuliskan bahwa aku harus mencari kotak hitam. Ku pikir aku sudah bisa menemukan Rani ternyata tidak. Beberapa menit aku menggeledah ruangan, terlihat kotak di bawah tempat tidur, didalamnya terdapat secarik kertas bertuliskan “pergi ke lantai lima, waktumu hanya 45 menit”. Aku panik, 45 menit bukanlah waktu yang lama, ku bergegas menaiki tangga yang licin itu.  Di sela – sela anak tangga yang tertutup rimbunnya daun kering bertuliskan “masuk ke kamar yang memiliki pintu paling rusak lalu lihat ke bawah karpet” aku bingung, semua pintu di lantai ini rusak parah. Mataku terpaku ke sudut ruangan dengan pintu yang tergeletak di lantai, segera ku tengok ke bawah karpet, keluarlah beberapa kecoak. Aku menjerit ketakutan dan berlari ke luar kamar. Setelah keadaannya tenang, aku masuk dan melihat kesana lagi, tercetak tulisan spidol merah yang menyatakan aku harus mengambil kunci yang tergantung di lantai tiga dan kembali kesini.

Aku sudah berada di lantai lima dan harus kembali ke lantai tiga sedangkan nafasku sudah terengah – engah. Rasanya aku ingin menyerah, aku sudah tidak kuat dan aku tidak bisa untuk melawan rasa takutku. Aku teringat Rani, ia sedang membutuhkanku, ia lebih tersiksa daripada aku. Dengan sisa tenaga aku menuruni tangga dan mencari kunci itu, aku sudah mengecek semua pintu, bagian depan dan belakang pintu tak ada kunci. Aku pasrah duduk bersandar di meja di pojok ruang. Dengan mata buram aku melihat kunci yang tergantu di subuah paku berkarat di bagian atas dinding. Ku coba meraihnya namun tak sampai. Aku menggeret bangku dan menggenggam kunci itu erat – erat.

Saat aku ingin menaiki tangga, terlihat tulisan bahwa aku harus ke lantai enam. Berarti aku haru melewati dua lantai dengan tangga yang panjang dan tinggi.  Aku menyeka keringat dengan baju, entah sudah seberapa kotor pakaianku. Di lantai enam, ruangan yang sangat luas tanpa kamar atau pintu lain. Hanya ada beberapa meja dan kursi, mungkin ini sebagai ruang pertemuan dulunya. Tanganku menyentuh meja yang penuh debu, ternyata ada sebuah petunjuk. Si penculik menulis bahwa aku harus menemukan sapu tangan untuk menyeka air mataku. Apa maksud dari semua ini, aku sedang tidak menangis saat ini. Oh tidak, Rani sedang dalam bahaya, aku harus segera menyelamatkannya. Ku geledah semua kolong meja dan aku menemukan sapu tangan yang tertutup beberapa kertas dan buku. Sungguh permainan yang gila! Di sapu tangan tertulis “lihat keatas”. Di langit – langit dinding tertulis waktumu hanya 15 menit lagi. aku tersadar banyak waktu yang terbuang.

Tanpa pikir panjang aku bergegas ke lantai tujuh, di sepanjang lantai aku menemukan barang – barang milik Rani seperti jam tangan, gelang, kunciran hingga bercak sepatu dan tetesan – tetesan darah. Seketika aku menangis karena takut dan panik, aku tidak ingin Rani celaka. Aku terus menagis sambil menaiki tangga menuju lantai delapan. Aku menggeledah seisi ruang, sudah kucari ke semua sudut ruangan. Ini lantai terakhir namun tak ada satupun petunjuk yang ku temui. Aku sudah terlunglai di lantai, sia – sia yang kulakukan, berbagai pikiran negatif telah memenuhi kepalaku.

Tiba – tiba aku mendengar suara teriakan, tapi aku tak tahu asal suara itu. Itu seperti suara Rani. Semangatku berkobar kembali, aku berlari- lari di lantai itu untuk mencari petunjuk dan akhirnya ku temukan sebuah tangga sepetak yang sepertinya menuju ke bagian atap gedung.  Dengan pelan ku melangkah, terasa angin kencang menusuk tubuhku. Disana aku melihat Rani sedang duduk diikat dengan mulut tertutup diatas bangku. Aku juga melihat si penculik berpakaian serba hitam. Wajah Rani sangat ketakutan dan tiba – tiba penculik memukul leher Rani dengan tongkat bambu. Rani langsung jatuh tak berdaya bersama dengan bangkunya. Aku teriak memanggil namanya, kupeluk dia dengan erat, aku tak mau kehilangannya. Air mataku mengalir deras, aku tak sanggup melihatnya, aku sayang padanya. Dia adalah sahabat terbaikku.

Seketika lampu menyala dan terdengan nyanyian ulang tahun dari arah belakangku. Aku menoleh, tak kusangka semua sahabatku ada disana. Sahabat yang sejak pagi marah dan mencaci aku. Mereka membwa kue dengan lilin angka 16. Rani terbangun dan bersalaman dengan si penculik, aku tersentak kaget. Ternyata semua ini adalah kejutan yang sengaja dibuat untuk merayakan hari istimewaku. Kini di depanku terlihat kawat yang disusun rapi dengan tulisan selamat ulang tahun Dini. Aku terharu, ku tak marah kepada mereka karena sudah mengerjaiku. Aku justru berterima kasih, ini adalah kado teristimewa di hari istimewaku. Kalian memang sahabat terbaikku.


            Aku bangga memiliki kalian, bisa menciptakan rencana gila seperti ini. Kalian tahu tidak, aku seperti di dalam permainan ular tangga yang harus menaiki dan menuruni berbagai anak tangga dengan nafas yang tersendat – sendat. Tapi aku tetap berjuang demi Rani sahabat kita. Mereka justru tertawa dan puas melihat ekspresi ku yang kecapekan, mereka menjelaskan bahwa semuanya adalah rekayasa. Laporan Rani sebenarnya tidak hilang, justru Rani sudah mengumpulkannya saat Dini ke toliet, semua hanya akting. Satu – satunya lantai yang ku lewati adalah lantai empat karena disanalah sahabatku menyiapkan segalanya, mulai dari alat dan bahan, kostum, hingga teka teki. Aku percaya, kejadian ini membuat persahabatan kita akan semakin erat. Kami berpelukan di bawah senjanya langit tertutup indahnya mentari terbenam.

Karya Farhan W.

PERSAHABATAN


            Pada suatu hari, ada 3 orang sahabat yang bernama Farhan,Arif dan Aqib sedang bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke rumah temannya yang bernama Wibi untuk mengerjakan tugas bersama. Lalu mereka berkumpul disalah satu rumah mereka yaitu rumah Aqib.

            Sesampainya mereka dirumah Aqib mereka makan terlebih dahulu. Lalu mereka melanjutkan untuk pergi ke rumah Wibi, tetapi sebelum mereka ke rumah Wibi, mereka berencana untuk mampir di Mc Donald untuk nongkrong sambil berbincang-bincang. Di perjalanan menuju Mc Donald mereka mengendarai sepeda motor dan di jalan mereka bertemu rombongan polisi dan polisi yang paling depan membawa pentungan berwarna merah. Saat mereka ingin belok ke pinggir jalan, mereka menunggu di tengah jalan sampai rombongan polisi itu lewat tetapi saat mereka di tengah jalan Arif terkena pukulan dari pentungan polisi sedangkan Aqib dan Farhan ingin di tabrak polisi. Sesampainya di Mc Donald mereka lalu memesan beberapa makanan dan minuman. Lalu mereka berbincang-bincang membicarakan tentang sekolahan.


            Lalu mereka melanjutkan ke rumah Wibi, diperjalanan Aqib dipepet oleh Angkutan Umum dan sahabatnya menertawainya sepanjang jalan. Dan sesampainya di rumah Wibi mereka mengerjakan tugas dan sambil menceritakan apa yang mereka alami selama perjalanan ke rumah Wibi. 

Karya M. Ariq

Kursi Roda

Secarik kertas koran dengan tampilan yang lusuh berserakan kemana mana.Belum lagi sisa sisa penghapus dan rautan pensil menyatu bagaikan tepung dan terigu yang berserakan pula di lantai kamar dengan ukuran yang tidak terlalu kecil itu.Dari sebagian kertas kertas itu yang terpajang di langit langit kamar Heinz,pemuda yang namanya biasa disebut demikian,terpapar rancangan mesin mesin aneh dan unik hasil imajinasi beliau.Lengkap dengan coret coretan rumus dan skema skema di bagiannya.Kamar itu penuh dengan alat alat eksperimen aneh yang sama sekali belum terealisasikan.Hanya ada satu purwarupa alat hasil buah tangan dan imajinasinya yang benar-benar terealisasikan.Walaupun benda itu hanyalah sebuah mesin pemotong rumput dengan roda jenis track yang bentuknya lebih mirip kendaraan tempur daripada mesin pemotong rumput.Sebagian dari rancangan itu ada pula yang gagal karena kurangnya ketelitian Heinz dalam merakit mesin itu.Hasilnya,kertas rancangan itu memenuhi kamar Heinz dengan menggantung di langit-langit kamar secara abstrak.

Kini Heinz hanya memandangi dari sudut kamarnya sembari mengamati proyek proyeknya yang secara teknis masih angan-angan yang belum direalisasikan.Sebenarnya banyak faktor yang membuatnya tidak bisamelanjutkan proyek-proyek ambisius yang terpapar dari coretannya tersebut.Antara lain karena kurangnya dana yang dimiliki oleh mahasiswa Fakultas Teknik MesinUniversitas Aachen ini.Ia juga bukanlah seseorang yang jenius.Berbekal ketertarikannya dengan proyek-proyek mesin dan mekanika serta berbagai macam eksperimen-lah yang membuatnya menjadi seseorang yang geek terhadap alat alat mekanika dan elektronika.Meski juga didukung oleh imajinasinya menjadi  seorang Iron Man,karakter superhero buatan Marvel yang terkenal jenius itu.Ia tinggal di sebuah rumah kost yang letaknya tak jauh dari sebuah bengkel.Jadi sebenarnya cukup mudah untuk merealisasikan alat-alat rancangannya.Tetapi juga bukan dana masalahnya.Ia juga harus fokus menyelesaikan kuliahnya.Ia juga bekerja secara part time di sebuah toko buku.Jadi ia harus menunggu waktu yang tepat untuk mengeksekusi rancangannya.

           Musim libur datang.Ketika teman-teman Heinz memilih berlibur bersama keluarga ataupun kawan dengan berwisata ke gunung,pantai,ataupun keluar negeri,ia lebih memilih menetap di rumah kost kecilnya bersama Adler,seseorang paruh baya yang memiliki kost tersebut.Adler sudah terbiasa mendengar suara berisik dari kamar Heinz setiap malam.Terutama saat liburan seperti ini.Untungnya dia adalah sosok yang ramah dan toleran,sehingga ia membiarkan Heinz sibuk dengan dunianya.Asalkan ia tidak berbuat kerusakan di kost berlantai kayu yang sudah tua itu.

          Suatu ketika,ia ditelpon oleh kerabatnya yang lama.Dan ia kagum karena teman dekatnya sewaktu di SMA dulu kini telah menjadi pengusaha muda yang sukses.Hal ini tentu membuat iri baginya.Ia ingin semua yang dia rancang benar benar sukses dan menjadi alat yang bermanfaat.Ia bermimpi memiliki perusahaan elektronik ternama dengan alat alat hasil rancangannya.Ia termotivasi untuk menggunakan hari hari liburnya demi merealisasikan rancangannya yang belum selesai.Namun ia masih bingung proyek apa yang sebaiknya benar benar ia lanjutkan.Iaharus realistis karena tidak semua rancangannya pasti bisa diselesaikan sebelum liburan usai.Maka ia ambil sepatu coklatnya dan ia bergegas ke taman untuk sekedar mencari inspirasi bersama buku catatan kecilnya.


                 Di taman ia mencari tempat duduk  yang pas untuk  mencari inspirasi.Sambil mengamati kolam taman,perhatiannya tertuju pada seseorang kakek yang mencoba untuk beranjak dari bangku di sebelahnya,tetapi ia kesulitan,bahkan hampir jatuh.Ia hampiri kakek itu sambil membantunya kemudian ia  menanyakan mengapa ia tidak membawa tongkat ataupun kursi roda untuk pergi ke taman itu.

   “Sudah 2 tahun penyakit Parkinson ku kambuh”jelas kakek itu dengan suara agak serak.

   “Lantas mengapa bisa terhambat dengan penyakit itu?.”

   “Aku tidak bisa menggerakkan anggota tanganku dengan stabil.Penyakit ini membuat gerakanku bergetar ketika ingin mengambil sesuatu.”

“Memangnya keluarga anda tidak ada yang mau membantu?”tanya Heinz dengan sopan

    “Aku tinggal sendirian di sebuah rumah peninggalan anakku.Mereka semua tewas karena kecelakaan.”

Dalam benak Heinz,muncul rasa ibanya terhadap sang kakek.

   Tiba tiba terlintas di pikirannya untuk membuat kursi roda untuk kakek itu.Ia langsung merencanakan alat alat untuk rancangannya.

   “Aku bisa membuatkan kursi roda untuk kakek,tetapi aku kekurangan salah satu faktor pendukungnya”

   “Tenanglah nak,aku bisa mendukungmu,jarang sekali ada anak muda yang berambisi dalam teknologi sepertimu,ambillah beberapa uang ini,gunakanlah seperlu mungkin hingga proyekmu selesai.Aku sangat kagum jika kau benar benar mau membuatkannya untukku.”


Beberapa hari kemudian kursi roda sederhana itupun selesai dibuat.Ia melengkapi teknologi yang memungkinkan penderita Parkinson dapat menggunakannya.Melihat kursi itu telah jadi,kakek itu sangat senang.Ia bangga memakainya.Ia bercerita keapda Heinz bahwa dahulu pada masa kecilnya ia adalah seorang mekanika yang juga bermimpi menciptakan dunia lebih modern.Namun penyakit yang diderita membuat ia menguburkan mimpinya.Tetapi ia senang ada anak muda yang bermimpi sepertinya.Begitu pula Heinz,ia senang telah berbuat baik kepada orang lain,meskipun ia tidak mendapat keuntungan materi.Ia bersyukur di masa mudanya dapat berkarya kepada orang lain.Berita tentang penemuan kursi roda khusus itu kemudian terkenal di khalayak masyarakat.Tidak lama kemudian nama Heinz terkenal oleh berbagai media.Ia direkrut oleh perusahaan farmasi dan mulai menjadi peneliti disana.

Karya Novranza K.

7 KURCACI

            Namaku Claura, aku mempunyai enam sahabat terbaik. Raya, Joe, Leina, Keylie, Vito dan Yogi, merekalah teman-teman terbaikku. Kami mempunyai sebuah nama untuk persahabatan kami yaitu 7 kurcaci. Kami seperti kurcaci yang saling bekerja sama, selalu berbagi dan baik hati.

Kring.. kring.. kring..  ! alarm ku berbunyi.

“Claura, ayo cepat bangun dan bersiap-siap karena hari ini kamu ada acara kelulusan, mama sudah menyiapkan baju untuk kamu kenakan”
Sementara aku masih dalam keadaan setengah sadar, “Baiklah ma”. Aku pun langsung bersiap-siap dan mama ku sudah menyiapkan makan pagi. Setelah itu kami pun pergi bersama-sama ke gedung Himalaya.

            Sesampainya disana ternyata teman-temanku sudah banyak yang datang.

“Hai Claura” sapa Raya dan Joe padaku.

“Hai Raya, hai Joe, mengapa kalian hanya berdua saja, kemana yang lain?”

“Leina, Keylie, sedang ke toilet, lalu Vito dan Yogi sedang dalam perjalanan kemari.” Kata Raya.

“Oh.. Tidak terasa ya bahwa kita sudah lulus, aku sangat tidak menyangka akan secepat ini” kataku.

Tidak lama Leina dan Keylie datang.

“Hai Claura” sapa mereka.

“Hai” kataku

“Kamu sangat cantik dengan gaun ini” kata Keylie

“Terima kasih Key, kalau kau ingin nanti setelah selesai acara ini kita belanja bersama” kataku

“Ah.. tidak usah nanti aku merepotkan dirimu, aku jadi tidak enak pada ibu mu Claura” kata Keylie

“Ya, benar kata Key, nanti kita terus merepotkan dirimu, kau terlalu baik pada kami Claura” kata Lei

“Ya sudah, tapi kapan-kapan kalian harus mau, aku saja tidak merasa direpotkan” kataku

“Iya Claura ku” kata Lei dan Key sambil tertawa.

            Kemudian datanglah Yogi dan Vito, mereka berdua kembar namun tak sama. Ya begitulah mereka, mereka sangat baik dan asik.

“Hai, ayo kita langsung duduk disana” kata Vito.

“Oke”

Kami pun duduk di satu deret kursi sambil menikmati acara peresmian kelulusan kami. Tak lama acara pun selesai dan kami sudah resmi lulus dari sekolah.

“Claura, ayo kita pulang, kita akan mengurusi surat-surat untuk kuliah mu di luar negeri” kata ibuku yang bertingkah sombong didepan teman-temanku.

Ya ibuku memang selalu begitu di depan ke-enam sahabat ku, ia selalu merendahkan teman-temanku. Aku sangat tidak suka dengan sifat ibuku yang seperti ini.

“Ya bu, ibu tinggu saja di mobil, aku ingin berpamitan dengan temanku dulu”

“Baiklah sayang”, lagi-lagi menjawab dengan nada sombong.

“Jadi benar kamu akan meninggalkan kami?” tanya Joe padaku.

“Bukankah kita sudah berjanji akan membuka usaha bersama setelah ini?” kata Vito

Mendengar pertanyaan mereka aku menjadi terpaku, aku bingung harus menjawab apa, karena aku tidak bisa melawan perkataan ibuku.

“Maafkan aku, aku sangat ingin bekerja sama dengan kalian tapi ibuku, ia tidak ingin aku selalu bersama kalian, kalian kan sudah tau ini sejak lama” kataku

“Ya Claura, sebaiknya memang benar kau harus mengikuti perkataan ibumu, aku tidak mau ibumu tambah benci pada kami” kata Keylie.

“Iya Claura, benar apa yang dikatakan key” kata Lei dan Joe.

“Teman-teman aku tidak bisa lama, aku sudah ditunggu ibuku, aku minta maaf sekali lagi, sampai jumpa” kataku

            Kami terus memikirkan bagaimana agar Claura tetap di sini dan ibu Claura tidak terus merendahkan kami. Semoga Tuhan memberikan jalan untuk kami agar kami bisa selalu bersama Claura. Bersahabat selamanya.

“Sebaiknya kita pulang” kata Yogi

“Aku masih tidak menyangka, aku tidak ingin Claura pergi” kata Raya.

“Sudahlah, kalau memang kita ditakdirkan selalu bersama, Claura tidak akan pergi” kata Vito

“Benar apa yang dikatakan Vito, sebaiknya kita berdoa yang terbaik untuk Claura dan kita semua” kata Joe

“Joe, Raya, Key kami pulang dulu ya” kata Vito, Yogi dan Leina

Mereka bertiga pun pulang bersama karena arah menuju rumah mereka sama sedangkan Joe, Raya dan Keylie berbeda dengan mereka.

“Joe, Raya kita mampir ke restauran dulu yuk, aku sangat lapar” kata Key

“Iya kekey sayang” kata Joe yang berusaha menggoda Keylie.

“Kalian ini memang sama saja, baru tadi kalian makan di gedung” kata Raya

“Duh.. Raya kamu tahu kan kalau kami seperti ini, haha..”

            Mereka bertiga tertawa bersama, dan melanjutkan perjalanan bersama ke restauran terdekat.

“Claura, sampai kapan kamu terus bergaul dengan mereka” kesal ibuku

“Sudahlah bu, Claura kan sudah berteman dengan mereka sejak kecil, tetapi nilainya tetap bagus dan sikapnya juga baik, temannya itu tidak membawa dampak negatif bagi Claura bu” kata Ayah ku

            Aku pun hanya bisa menangis dan mendengar orang tua ku bertengkar hanya karena diriku.

“Claura kamu harus dengarkan kata mama, kamu ini baru saja lulus, kamu harus kuliah untuk melanjutkan belajar kamu agar nantinya kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan ibu tidak akan malu dengan teman-teman ibu” kata ibuku.

“Bayangkan kalau kamu tidak kuliah, kamu mau jadi apa, perusahaan tidak akan mau menerima kamu, yang ada kamu bikin malu ibu” sambung ibuku.

“Iya ibu, maaf kalau Claura membuat kesal ibu, Claura akan mendengarkan kata ibu, tapi izinkan aku agar aku selalu bisa berkomunikasi dengan teman-temanku” kataku.

“Tidak, tidak akan pernah ibu izinkan, kamu harus berteman dengan selevel mu, agar kamu tidak salah pergaulan” kata ibu.

“Ibu benar-benar kejam” aku pun sudah tidak kuat menahan semua kesal ku, aku pun pergi ke kamar untuk menyendiri.

“Bu, kamu itu tidak pernah mengerti perasaan Claura” kata ayah.

“Aku mengerti dia, apa yang ia mau aku turuti, tapi kenapa apa yang aku inginkan tidak dia turuti” kata ibu.

“Karena keinginanmu itu tidak pantas diwujudkan” kesal ayah.

“Ah.. terserah apa kata ayah, ibu capek ingin istirahat, ayah makan saja sendiri” kata ibu yang kesal, lalu menuju kamar.

Aku rasanya ingin pergi dari sini, aku sangat tidak suka dengan keadaan seperti ini, aku sangat tertekan. Memang sebaiknya aku pergi dari rumah ini untuk beberapa hari saja agar hatiku menjadi tenang, mungkin aku bisa menginap dirumah Leina. Aku pun menyiapkan tas serta uang, namun untuk handphone ku sebaiknya aku tinggalkan di kamar ku agar orang tua ku tidak menelpon diriku. Aku keluar melalui jendela kamarku, lalu aku berjalan keluar gerbang tanpa diketahui satpam atau pembantu rumahku. Akhirnya aku berhasil. Aku terus berjalan menuju rumah Leina dengan tatapan kosong. Aku berharap dapat menenangkan diri disana bersama Leina, karena hanya Leina yang benar-benar mengerti aku.

Sudah setengah jalan ku jejaki, aku tetap berjalan fokus kedepan tak lama aku dihampiri tiga orang pemuda yang seram, dan aku sangat takut mereka menarikku dan merampas tasku. Aku berteriak “Tolong.. tolong..” namu tidak ada yang mendengar. Aku pun dibawa ke sebuah gudang disekitar jalan tersebut. Aku diikat dengan tali dan tiga pemuda itu meminta nomor telepon orang tua ku untuk meminta tembusan, namun aku tidak pernah ingat nomor telepon orangtua ku. Mereka marah padaku, akhirnya pergi meninggalkan ku di gudang, mungkin mereka ingin melanjutkan mencari mangsa dan mencari identitas keluarga ku untuk mendapatkan uang. Ibu ayah , Claura sangat takut, untungnya pemuda itu hanya merampas tas ku.

Sementara dirumah,

“Ayah.. ayah.. Claura hilang yah” kata ibuku. “Apa? Bagaimana bisa ia menghilang?” kata ayah. “Ini semua pasti karena ayah..” ibuku menyalahkan ayah.

“Sudahlah bu, sekarang bukan waktunya untuk menyalahkan, ayo cepat kita kabarkan polisi dan teman-teman Claura” kata ayah.

“Ray, handphone kamu bunyi tuh” kata Joe.

Raya pun mengangkat telepon tersebut dan ternyata...

“Joe, Key, Claura hilang, baru saja ayah Claura mengabarkannya padaku, bagaimana ini?” kata Raya yang kebingungan dan panik.

“Sebaiknya aku kabari Lei, Vito dan Yogi agar mereka ikut membantu mencari Claura” kata Keylie.

“Ayo cepat kita harus mencari bersama dan menanyakan orang disekitar, siapa tahu mereka melihat Claura pergi kemana” kata Joe.

         Sementara Lei, Vito dan Yogi yang telah mendengar kabar tersebut dari Key langsung bergegas mencari Claura di tempat berbeda.

Mereka pun terus mencari dan polisi pun sudah turun tangan. Sudah 3 hari aku hilang, aku pun merasa sudah sangat bersalah, pasti ibu dan ayah sangat khawatir padaku. Teman-teman ku juga pasti sedang panik mencari ku. Aku sangat menyesal pergi tanpa izin orang tua ku. Aku janji setelah bebas dari sini aku akan menuruti perkataan ibu dan ayah, aku tak ingin ibu dan ayah menjadi bertengkar karena aku. Mungkin aku harus segera merelakan teman-teman ku dan mungkin suatu saat aku bisa bertemu kembali dengan keenam sahabat terbaikku.

            Aku tidak boleh diam saja di gudang ini, aku harus berusaha mencari jalan keluar dari gudang ini dan melepaskan ikatan tali ini. Namun tidak bisa, akhirnya aku mencoba menjalankan kursi ini kedepan pintu untuk aku berteriak agar dapat terdengar ke luar gudang tersebut. Sementara pemuda tersebut memang sedang pergi ke jalanan untuk mencari uang. 
Ini adalah peluang terbaikku. Semoga aku berhasil.

“Tolong.. tolong aku.. aku ada didalam gudang ini, apakah ada orang di luar sana? Tolong....”

“Eh kalian tunggu sebentar, apakah kalian mendengar suara minta tolong?” kata Vito.

“Hmm.. iya aku mendengarnya, suara ini mirip sekali dengan suara Claura” kata Leina.

“Ayo kita cari sumber suaranya” kata Yogi.

           Mereka terus mencari sumber suara tersebut, suara tersebut semakin besar dan semakin jelas terdengar saat kami mendekati sebuah gudang yang kami curigai.

“Jangan-jangan Claura disini? Duh Claura kasihan sekali dia di culik disini” kata Leina,

“Sebaiknya kita hati-hati deh Yog, siapa tau disini ada penculiknya” sambung Leina.

“Sudahlah kamu tenang saja Lei, Ayo Vit kita dobrak pintunya..” kata Yogi.

       Sedangkan Leina mengabari orang tua Claura agar polisi dapat menuju kemari untuk mengamankan kita semua.
“Ayo bu, Leina mengabarkan ia sudah menemukan Claura, lebih baik kita kesana bersama polisi” kata ayah. “Oh.. Tuhan, anakku akhirnya ketemu, ayo yah cepat, aku sudah sangat khawatir pada Claura” kata ibu.
“1.. 2.. 3.. dobrak!!” “1.. 2.. 3.. dobrak!!” semangat Vito dan Yogi.

Akhirnya kami berhasil mendobrak pintu gudang tersebut. Kami pun melihat Claura yang diikat dengan tali dan sudah dalam keadaan lemah karena ia belum makan selama 3 hari. Kami pun melepaskan ikatan tali tersebut. Tak lama kemudian saat kami ingin kabur, tiga pemuda tersebut datang namun sekarang mereka tidak hanya bertiga tetapi berenam. Vito dan Yogi pun tidak patah semangat, mereka harus melawan pemuda-pemuda tersebut agar bisa membebaskan Claura. Sedangkan Leina melindungi Claura dan membuat Claura tenang. Vito dan Yogi sudah penuh dengan luka, karena melawan keenam pemuda yang sangat jago berkelahi, namu mereka tidak menyerah, demi teman terbaiknya mereka rela bercucuran darah untuk menyelamatkan temannya.

Kemudian datanglah polisi dan orang tua dari Claura. Polisi tersebut langsung menangkap pemuda-pemuda tersebut. Dan orang tua Claura menghampiri Claura dan ibu Claura pun meminta maaf pada Claura atas semua yang ibu Claura perbuat. Sementara ayah Claura menelpon ambulance untuk membawa Vito dan Yogi untuk diobati karena luka berkelahinya tadi cukup parah. Namun biaya rumah sakit akan tetap ayah Claura tanggung.

Dirumah sakit, “Claura, maafkan ibu sekali lagi ya sayang” kata ibuku menangis, “Iya bu, tidak apa-apa”. Ibu juga meminta maaf pada teman-temanku dan berterima kasih telah menyelamatkan anaknya. “Claura, ibu akan membatalkan semua rencana kuliah mu itu, sekarang kamu boleh melakukan apa yang kamu mau dan kamu boleh berteman dengan mereka sampai kapanpun”. “Hah? Beneran bu? Wah.. terima kasih ibu” aku sangat senang mendengar perkataan ibuku, begitu pula teman-teman ku mereka juga turut senang.

“Ibu tidak akan lagi melarang kamu berteman dengan mereka Claura, jadi kapan pun kamu ingin bermain dengan mereka, ibu sangat memperbolehkan, kalian juga boleh membuka usaha bersama, namun kaliah juga harus kuliah, ibu akan membiayakan kalian untuk kuliah bersama-sama, pasti kalian akan sangat senang?” kata ibu senang.

“Asik.. terima kasih tante” kata kami.

“Oke saatnya kita makan, om membawakan makanan untuk kalian, pasti kalian lapar, om juga membawakan bubur untuk Vito dan Yogi” kata ayah sambil tertawa di ruang perawatan.

“Apa om? Bubur?” kata Vito dan Yogi yang tidak suka bubur.

“Iya, kalian berdua harus makan ini, oke?” kata ayahku.

“Ah... tidak” kata Vito dan Yogi kesal.

“Hahaha..” kami semua tertawa mendengarkan kekesalan Vito dan Yogi yang seperti anak kecil itu.

Karya M. Arif

SAHABAT

            Pada suatu hari, dua orang sahabat Afki dan Zafk sedang berkumpul seperti biasanya, namun ada yang berbeda pada sore itu dari yang sebelumnya. Mereka saling berdiam diri seperti kompor yang menunggu untuk dinyalakan. Setelah lama berdiam diri mereka memutuskan untuk pulang
            Di pejalanan pulang Afki bertanya kepada Zafk “Ada apa denganmu?” Zafk menjawab “ Tidak ada apa apa”. Afki  membalas “ ceritakan saja” Zafk terdiam dan tidak mau membuka mulut.Setelah lama diam Zafk akhirnya bercerita kepada Afki tentang masalahnya.
            “Aku mempunyai masalah hutang dengan salah seorang temanku, tapi aku tidak tau bagaimana cara membayarnya karna uangku baru separuhnya” Zafk bercerita. Afki tersenyum sambil berkata “Berapa yang kau butuhkan?” Zafk kaget dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Afki.
            “Seratus ribu” sambil menahan malu. Afki membuka dompet dan memberikan uang seratus ribu kepada Zafk “Ambilah”.Zafk kehabisan kata kata lalu menjawab “Apa kau serius? Tapi aku tidak tau kapan aku bias mengembalikan uang yang kau pinjamkan kepadaku”.
            Afki tersenyum dan berkata “Bukanya kita sudah menjadi sahabat sejak kecil? Aku ingin membantumu yang sedang kesusahan dan aku pun yakin kau akan membantuku pula jika aku sedang kesusahan, bukankah seorang sahabat harus seperti itu?”
            Zafk terharu sambil menahan air mata dan kehabisan kata kata. “Tak usah kau pikirkan kapan kau akan mengembalikanya yang terpenting selesaikan dulu masalahmu itu”. Zafk berkata “Terima kasih Afki kau adalah sahabat terbaiku yang penggertian”. “ Tentu saja” Afki sambil tersenyum.

            Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Zafk. “Afki sekali lagi terima kasih”. “ Sama sama Zafk”. Akhirnya Zafk pun pulang kerumahnya dan tidak lama kemudian Afki sampai juga kerumahnya. Sejak hari itu persahabatan mereka semakin erat dan tak terpisahkan.